Opini By : Ahmad Bahtiar
Politik selalu menyisakan ruang tanya. Termasuk dalam dinamika Kota Metro hari ini.
Salah satu pertanyaan yang mulai beredar di ruang publik adalah: apakah partai lama yang dahulu menjadi mesin penting dalam pemenangan Haji Bambang Iman Santoso masih akan memberikan dukungan maksimal pada periode berikutnya? Ataukah sedang terjadi pergeseran arah yang belum sepenuhnya terbaca publik?
Dalam politik, loyalitas bukan hanya soal sejarah dukungan, tetapi juga tentang kepentingan, momentum, dan konfigurasi kekuatan terbaru. Tidak jarang, partai politik melakukan kalkulasi ulang berdasarkan dinamika internal maupun eksternal. Apalagi ketika kontestasi berikutnya mulai terlihat di cakrawala.
Di sisi lain, berbagai serangan—baik yang bersifat personal maupun kelembagaan—terlihat datang silih berganti. Ada yang terang-terangan, ada yang subtil. Bahkan muncul dugaan bahwa sebagian dinamika itu justru berasal dari lingkar terdekat sendiri. Jika benar demikian, maka ini bukan sekadar soal oposisi, tetapi soal konsolidasi internal.
Dalam politik lokal, sering kali ujian terbesar bukan datang dari luar pagar, melainkan dari dalam rumah sendiri.
Namun, sejauh ini, sosok Haji Bambang tetap menunjukkan karakter kepemimpinan yang tenang dan tidak reaktif. Sikap humble dan kemampuannya mengambil keputusan secara terukur menjadi modal penting. Dalam banyak kasus, pemimpin yang tidak terpancing provokasi justru terlihat lebih matang di mata publik.
Figur lain yang tidak kalah menonjol adalah Muhammad Rafiq Adi Pradana Yang Juga Wakil Walikota Metro dan gerakannya cukup lincah susah, cukup luas pemikirannya namun penuh dengan perhitungan yang matang .
Keduanya antara walikota dan wakil di mata masyarakat masih saling mengisi namun ada ruang kosong yang gelap yang mungkin sesi ini yang harus kita baca sebagai bagian dari pembelahan namun tidak berpisah
.
Ibu Ria Hartini atau Ria ayam sebagai ketua DPRD kota metro juga memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan dinamika kekuasaan. Konfigurasi antara eksekutif dan legislatif, serta soliditas antar figur sentral, akan sangat menentukan arah stabilitas politik Metro ke depan.
Sementara itu, pergerakan beberapa tokoh yang berganti warna politik, seperti Anamorinda yang disebut-sebut merapat ke PKB, menunjukkan bahwa peta politik belum statis. Ada proses realignment yang sedang berjalan. Publik tentu membaca ini sebagai bagian dari persiapan jangka panjang.
Pertanyaannya kini bukan sekadar siapa mendukung siapa.
Yang lebih penting adalah: apakah seluruh kekuatan politik di Metro mampu mengedepankan konsolidasi dibandingkan fragmentasi? Apakah energi akan difokuskan pada pembangunan kota, atau justru habis dalam tarik-menarik kepentingan internal?
Jika partai lama tetap solid, maka peluang keberlanjutan kepemimpinan akan semakin kuat. Namun jika terjadi retakan, maka diperlukan kebesaran jiwa dan kecakapan komunikasi politik untuk menjahit kembali simpul-simpul yang terurai.
Politik Metro saat ini sedang berada dalam fase sunyi yang penuh perhitungan. Serangan mungkin ada, manuver mungkin terjadi, tetapi publik pada akhirnya akan menilai dari stabilitas, keberhasilan program, dan kedewasaan sikap para pemimpinnya. Dalam konteks ini, yang paling dibutuhkan bukan sekadar kekuatan elektoral, melainkan konsolidasi moral dan visi bersama. Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya tentang memenangkan pertarungan, tetapi tentang menjaga kepercayaan.
Allahu a’lam bishawab.
