DETIKMO.COM.Jakarta. Kenaikan harga plastik di Indonesia belakangan ini mencapai hingga 50 persen dan menjadi perhatian serius pelaku industri maupun masyarakat. Lonjakan tersebut dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku utama yang masih bergantung pada impor dari kawasan Timur Tengah.
Salah satu bahan utama dalam produksi plastik adalah NAFTA. NAFTA adalah cairan hidrokarbon ringan yang merupakan hasil olahan awal dari minyak bumi melalui proses penyulingan di kilang. Secara sederhana, NAFTA bisa dipahami sebagai “bahan baku mentah” yang nantinya diolah lagi dalam industri petrokimia.
Dalam proses industri, NAFTA tidak langsung menjadi plastik. Cairan ini terlebih dahulu diolah melalui proses yang disebut cracking, yaitu pemecahan molekul menjadi senyawa yang lebih kecil seperti etilena dan propilena. Dari senyawa inilah kemudian dihasilkan berbagai jenis plastik, seperti polietilena (PE) dan polipropilena (PP) yang banyak digunakan dalam kemasan, kantong plastik, hingga peralatan rumah tangga.
Ketika pasokan NAFTA terganggu, rantai produksi plastik otomatis ikut tersendat. Produsen tidak dapat menghasilkan bahan baku plastik dalam jumlah normal, sehingga harga di pasar menjadi naik.
Berdasarkan laporan berbagai media, Indonesia masih sangat bergantung pada impor NAFTA, terutama dari Timur Tengah. Sekitar 70 persen kebutuhan bahan baku ini dipenuhi dari kawasan tersebut. Ketika terjadi konflik geopolitik, jalur distribusi menjadi terganggu dan biaya logistik meningkat tajam.
Menteri Perdagangan menyebutkan bahwa ketergantungan ini membuat Indonesia sangat rentan terhadap gejolak global, terutama ketika pasokan dari Timur Tengah tersendat.
Selain faktor konflik, kenaikan harga minyak dunia juga turut memperparah kondisi. Karena NAFTA merupakan turunan langsung dari minyak bumi, maka setiap kenaikan harga minyak akan berdampak langsung pada biaya produksi plastik.
Akibat kombinasi faktor tersebut, harga plastik di pasar domestik mengalami kenaikan bertahap hingga mencapai sekitar 50 persen. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh industri besar, tetapi juga pelaku UMKM yang menggunakan plastik sebagai bahan kemasan utama.
Pemerintah kini mulai menjajaki sumber impor alternatif dari kawasan lain serta mendorong penguatan industri petrokimia dalam negeri. Namun, upaya tersebut membutuhkan waktu dan investasi besar.
Situasi ini menjadi pengingat penting bahwa ketergantungan terhadap bahan baku impor strategis seperti NAFTA dapat menimbulkan risiko besar bagi stabilitas industri nasional. Tanpa kemandirian bahan baku, harga produk dalam negeri akan terus dipengaruhi oleh dinamika global yang sulit dikendalikan.(RED)
